KONSEP DASAR ISTIRAHAT DAN TIDUR

Posted: October 4, 2011 in keperawatan

KONSEP DASAR ISTIRAHAT DAN TIDUR

Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang. Untuk dapat berfungsi secara optimal, maka setiap orang memerlukan istirahat dan tidur yang cukup. Tidak terkecuali juga pada orang yang sedang menderita sakit, mereka juga memerlukan istirahat dan tidur yang memadai. Namun dalam keadaan sakit, pola tidur seseorang biasanya terganggu, sehingga perawat perlu berupaya untuk mencukupi ataupun memenuhi kebutuhan tidur tersebut.

1. PENGERTIAN

Istirahat merupakan keadaan yang tenang, relaks tanpa tekanan emosional dan bebas dari kegelisahan (ansietas). (Narrow, 1967 : 1645) mengemukakan 6 (enam) ciri-ciri yang dialami seseorang berkaitan dengan istirahat.

Sebagian besar orang dapat istirahat sewaktu mereka :

  1. Merasa bahwa segala sesuatu dapat diatasi
  2. Merasa diterima
  3. Mengetahui apa yang sedang terjadi
  4. Bebas dari gangguan dan ketidaknyamanan
  5. Mempunyai rencana-rencana kegiatan yang memuaskan
  6. Mengetahui adanya bantuan sewaktu memerlukan

Sedangkan pengertian tidur antara lain :

q Tidur berasal dari kata bahasa latin “somnus” yang berarti alami periode pemulihan, keadaan fisiologi dari istirahat untuk tubuh dan pikiran.

q Tidur merupakan keadaan hilangnya kesadaran secara normal dan periodik (Lanywati, 2001)

q Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar yang di alami seseorang, yang dapat dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Guyton 1981 : 679)

2. TUJUAN TIDUR :

Secara jelas tujuan tidur tidak diketahui, namun diyakini tidur diperlukan untuk menjaga keseimbangan mental emosional dan kesehatan. Selam tidur seseorang akan mengulang (review) kembali kejadian-kejadian sehari-hari, memproses dan menggunakan untuk masa depan.

3. TANDA TIDUR SECARA UMUM

Secara umum tidur ditandai dengan aktivitas fisik minimal, tingkatan kesadaran yang bervariasi, perubahan-perubahan proses fisiologis tubuh dan penurunan respon terhadap rangsangan dari luar. Secara detail tanda-tanda tidur ini akan dibahas pada macam / pola tidur.

4. PROSES FISIOLOGIS TIDUR

FISIOLOGI TIDUR

Hipotalamus mempunyai pusat-pusat pengendalian untuk beberapa jenis kegiatan tak-sadar dari badan, yang salah satu diantaranya menyangkut tidur dan bangun. Cedera pada hipotalamus dapat mengakibatkan seseorang tidur dalam jangka waktu yang luar biasa panjang atau lama.

Formasi retikuler terdapat dalam pangkal otak. Formasi itu menjulang naik menembus medulla, pons, otak bagian tengah, dan lalu ke hipotalamus. Formasinya tersusun dari banyak sel syaraf dan serat syaraf . Serat-seratnyamempunyai hubungan-hubungan yang meneruskan impuls-impuls ke kulit otak dan ke tali sumsum tulang belakang. Formasi retikular itu memungkinkan terjadinya gerakan-gerakan refleks serta yang disengaja dengan mudah, maupun kegiatan-kegiatan kortikal yang bertalian dengan keadaan waspada.

Di waktu tidur, sistem retikular mendapat hanya sedikit rangsangan dari korteks serebral (kulit otak) serta permukaan luar tubuh. Keadaan bangun terjadi apabila sistem retikular dirangsang dengan rangsangan-rangsangan dari korteks serebral dan dari organ-organ serta sel-sel pengindraan di kulit. Umpamanya saja, jam wekker membangunkan kita dari tidur menjadi keadaan sadar apabila kita menyadari bahwa kita harus bersiap-siap untuk pergi bekerja. Perasaan-perasaan yang diakibatkan oleh kenyerian, kebisingan dan sebagainya, akan membuat orang tidak dapat tidur lewat organ-organ serta sel-sel di kulit badan. Maka keadaan tidak dapat tidur di timbulkan oleh kegiatan kulit otak serta apa yang dirasakan oleh badan; di waktu tidur, rangsangan-rangsangan menjadi minimal.

Teori Dasar Tidur

Diduga penyebab tidur adalah proses penghambatan aktif. Ada teori lama yang menyatakan bahwa area eksitatori pada batang otak bagian atas, yang disebut “sistem aktivasi retikular”, mengalami kelelahan setelah seharian terjaga dan karena itu, menjadi inaktif. Keadaan ini disebut teori pasif dari tidur. Percobaan penting telah mengubah pandangan ini ke teori yang lebih baru bahwa tidur barangkali disebabkan oleh proses penghambatan aktif. Hal ini terbukti dari suatu percobaan dengan cara melakukan pemotongan batang otak setinggi regio midpontil, dan berdasarkan perekaman listrik ternyata otak tak pernah tidur. Dengan kata lain, ada beberapa pusat yang terletak dibawah ketinggian midpontil pada batang otak, diperlukan untuk menyebabkan tidur dengan cara menghambat bagian-bagian otak lainnya.

Perangsangan pada beberapa daerah spesifik otak dapat menimbulkan keadaan tidur dengan sifat-sifat yang mendekati keadaan tidur alami. Daerah-daerah tersebut adalah :

§ Nuklei rafe, yang terletak di separuh bagian bawah pons dan medula

§ Nukleus traktus solitarius, yang merupakan regio sensorik medula dan pons yang dilewati oleh sinyal sensorik viseral yang memasuki otak melalui syaraf-syaraf vagus dan glossofaringeus, juga menimbulkan keadaan tidur.

§ Beberapa regio diensefalon, yaitu bagian rostral hipotalamus, terutama area suprakiasma dan adakalanya suatu area di nuklei difus pada talamus.

5. MACAM / POLA / TAHAPAN TIDUR

Sejak adanya alat EEG (Elektro Encephalo Graph), maka aktivitas-aktivitas di dalam otak dapat direkam dalam suatu garafik . Alat ini juga dapat memperlihatkan fluktuasi energi (gelombang otak) pada kertas grafik. Penelitian mengenai mekanisme tidur mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam 10 tahun terakhir, dan bahkan sekarang para ahli telah berhasil menemukan adanya 2 (dua) pola/macam/tahapan tidur, yaitu :

  1. Pola tidur biasa atau NREM

Pola / tipe tidur biasa ini juga disebut NREM (Non Rapid Eye Movement = Gerakan mata tidak cepat). Pola tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam tidur gelombang pendek karena gelombang otak selama NREM lebih lambat daripada gelombang alpha dan beta pada orang yang sadar atau tidak dalam keadaan tidur (lihat gambar).Tanda-tanda tidur NREM adalah :

1) Mimpi berkurang

2) Keadaan istirahat (otot mulai berelaksasi)

3) Tekanan darah turun

4) Kecepatan pernafasan turun

5) Metabolisme turun

5) Gerakan mata lambat

Fase NREM atau tidur biasa ini berlangsung ± 1 jam dan pada fase ini biasanya orang masih bisa mendengarkan suara di sekitarnya, sehingga dengan demikian akan mudah terbangun dari tidurnya. Tidur NREM ini mempunyai 4 (empat) tahap yang masing-masing-masing tahap di tandai dengan pola gelombang otak.

1) Tahap I

Tahap ini merupakan tahap transisi, berlangsung selama 5 menit yang mana seseorang beralih dari sadar menjadi tidur. Seseorang merasa kabur dan relaks, mata bergerak ke kanan dan ke kiri, kecepatan jantung dan pernafasan turun secara jelas. Gelombang alpha sewaktu seseorang masih sadar diganti dengan gelombang betha yang lebih lambat. Seseorang yang tidur pada tahap I dapat di bangunkan dengan mudah.

2) Tahap II

Tahap ini merupakan tahap tidur ringan, dan proses tubuh terus menurun. Mata masih bergerak-gerak, kecepatan jantung dan pernafasan turun dengan jelas, suhu tubuh dan metabolisme menurun. Gelombang otak ditandai dengan “sleep spindles” dan gelombang K komplek. Tahap II berlangsung pendek dan berakhir dalam waktu 10 sampai dengan 15 menit.

3) Tahap III

Pada tahap ini kecepatan jantung, pernafasan serta proses tubuh berlanjut mengalami penurunan akibat dominasi sistem syaraf parasimpatik. Seseorang menjadi lebih sulit dibangunkan. Gelombang otak menjadi lebih teratur dan terdapat penambahan gelombang delta yang lambat.

4) Tahap IV

Tahap ini merupakan tahap tidur dalam yang ditandai dengan predominasi gelombang delta yang melambat. Kecepatan jantung dan pernafasan turun. Seseorang dalam keadaan rileks, jarang bergerak dan sulit dibangunkan. (mengenai gambar grafik gelombang dapat dilihat dalam gambar). Siklus tidur sebagian besar merupakan tidur NREM dan berakhir dengan tidur REM.

  1. Pola Tidur Paradoksikal atau REM

Pola / tipe tidur paradoksikal ini disebut juga (Rapid Eye Movement = Gerakan mata cepat). Tidur tipe ini disebut“Paradoksikal” karena hal ini bersifat “Paradoks”, yaitu seseorang dapat tetap tertidur walaupun aktivitas otaknya nyata. Ringkasnya, tidur REM / Paradoks ini merupakan pola/tipe tidur dimana otak benar-benar dalam keadaan aktif. Namun, aktivitas otak tidak disalurkan ke arah yang sesuai agar orang itu tanggap penuh terhadap keadaan sekelilingnya kemudian terbangun. Pola / tipe tidur ini, ditandai dengan :

1) Mimpi yang bermacam-macam

Perbedaan antara mimpi-mimpi yang timbul sewaktutahap tidur NREM dan tahap tidur REM adalah bahwa mimpi yang timbul pada tahap tidur REM dapat diingat kembali, sedangkan mimpi selama tahap tidur NREM biasanya tak dapat diingat. Jadi selama tidur NREM tidak terjadi konsolidasi mimpi dalam ingatan.

2) Mengigau atau bahkan mendengkur (Jw. : ngorok)

3) Otot-otot kendor (relaksasi total)

4) Kecepatan jantung dan pernafasan tidak teratur, sering lebih cepat

5) Perubahan tekanan darah

6) Gerakan otot tidak teratur

7) Gerakan mata cepat

8) Pembebasan steroid

9) Sekresi lambung meningkat

10) Ereksi penis pada pria

Syaraf-syaraf simpatik bekerja selama tidur REM. Dalam tidur REM diperkirakan terjadi proses penyimpanan secara mental yang digunakan sebagai pelajaran, adaptasi psikologis dan memori (Hayter, 1980:458). Fase tidur REM (fase tidur nyenyak) ini berlangsung selama ± 20 menit. Dalam tidur malam yang berlangsung selama 6 – 8 jam, kedua pola tidur tersebut (REM dan NREM) terjadi secara bergantian sebanyak 4 – 6 siklus.

http://forbetterhealth.wordpress.com/2008/12/22/konsep-dasar-istirahat-dan-tidur/

Penetapan diagnosis

Menurut NANDA (2003), diagnosis keperawatan yang dapat ditegakkan untuk kliendengan masalah tidur adalah gangguan pola tidur.eitologi untuk label diagnosis inidapat bervariasi dan spesifik untuk masing-masing individu.hal ini meliputiketidaknyamanan fisik atau nyeri, ansietas, perubahan waktu tidur yang sering,serta perubahan lingkungan tidur atau ritual sebelum tidur.

Selain sebagai label diagnosis, gangguan pola tidur juga bisa menjadi etiologi untuk

diagnosis yang lain, seperti Risiko Cedera, kelelahan, Ketidakefektifan Koping,

Asietas, Intoleransi Aktivitas,dll.

Perencanaan dan inplementasi

Tujuan utama asuhan keperawatan untuk klien dengan gangguan tidur adalah untukmempertahankan (atau membentuk) pola tidur yang memberikan energi yangcukup untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Sedangkan tujuan lainnya dapat terkaitdengan upaya miningkatkan perasaan sejahtera klien atau meningkatkan kualitastidurnya.

1.Gangguan pola tidur.

Yang berhubungan dengan:

•Sering terjaga di malam hari, sekunder akibat (gangguan transport oksigen,

gangguan eliminasi, gangguan metabolisme).

•Tidur berlebihan di siang hari, sekunder akibat medikasi (mis; sedatif, hipnotik,

antidepresan, amfetamin, barbiturate, dll).

• Depresi.

• Nyeri.

•Aktivitas siang hari yang tidak adekuat.

• Perubahan lingkungan.

•Perubahan ritme sirkadian

• Takut.

2. Kriteri hasil

Individu akan melaporkan keseimbangan yang optimal antara istirahat dan

aktivitas.

3. Indikator

•Menjelaskan faktor yang mencegah atau menghambat tidur.

•Mengidentifikasi teknik untuk memudahkan tidur

4. Intervensi umum

•Identifikasi faktor yang menyebabkan gangguan tidur (nyeri, takut, stress,ansietas, imobilitas, sering berkemih, lingkungan yang asing, temperature,aktivitas yang tidak adekuat).

•Kurangi atau hilangkan distraksi lingkungandan gangguan tidur.

Bising

➢Tutup pintu kamar.
➢Cabut kabel telepon.
➢Nyalakan “bunyi-bunyi yang lembut” (mis; kipas angin, music yang

tenang, suara hujan, angin).

➢Pasang lampu tidur.

➢Turunkan volume alarm dan TV.

Gangguan

➢Hindari prosedur yang tidak perlu selama periode tidur.

➢Batasi pengunjung selama periode istirahat yang optimal (mis; setelah

makan).

➢Apabila berkemih malam hari dapat mengganggu tidur, minta klien

untuk membatasi asupan cairan pada malam hari dan berkemih sebelum

tidur.

•Tingkatkan aktivitas di siang hari, sesuai indikasi.

➢Buat jadwal program aktivitas untuk siang hari bersama klien (jalan kaki,

terapi fisik).

➢Jangan tidur siang lebih dari 90 menit
➢Anjurkan klien untuk pagi hari
➢Anjurkan orang lain untuk berkomunikasi dengan klien rangsang ia untuk

tetap terjaga.

•Bantu upaya tidur

➢Kaji rutinitas tidur yang biasa dilakukan klien, keluarga atau orang tua-

jam, praktik hygiene, ritual (membaca, bermain)-dan patuhi semaksimal

mungkin

➢Anjurkan atau berikan perawatan pada petang hari (mis; hygiene

personal, linen dan baju tidur yang bersih).

➢Gunakan alat bantu tidur (mis; air hangat untuk mandi, bahan bacaan,

pijatan di punggung,susu, music yang lembut, dll).

➢Pastikan klien tidur tnpa gangguan selama sedikitnya 4 atau 5 periode,

masing-masing 90 menit, setiap 24 jam.

➢Catat lamanya tidur tanpa gangguan untuk setiap sif

•Ajarkan rutinitas tidur di rumah (Miller, 1999):

➢Pertahankan jadwal harian yang konsisten untuk bangun, tidur, dan

istirahat (hari biasa, akhir pekan).

➢Bangunlah di waktu yang biasa, bahkan jika tidur anda tidak nyenyak,

hindari berada di tempat tidur setelah terjaga.

➢Gunakan tempat tidur hanya untuk aktivitas yang terkait dengan tidur.

➢Apabila anda terjaga dan tidak dapat tidur kembali, beranjaklah dari

tempat tidur dan membacalah di ruangan lain selama 30 menit.

➢Hindari makanan dan minuman yang mengandung kafein (coklat, the,

kopi) saat siang dan petang hari.

➢Hindari minuman yang beralkohol.

➢Upayakan mengonsumsi kudapan yang kaya L-triptofan (mis; susu,

kacang) menjelang tidur.

•Jelaskan pentingnya olah raga secara teratur (jalan kaki,lari, senam aerobic danlatihan) fisik selama sedikitnya satu setengah jam tiga kali seminggu (jika tidakdikoordinasikan) untuk menurunkan stress dan memudahkan tidur.

•Jelaskan bahwa obat-obat hipnotik tidak boleh digunakan untuk waktu yanglama karena berisiko menyebabkan toleransi dan mengganggu fungsi padasiang hari.

•Jelaskan pada klien dan orang terdekat klien mengenai penyebab gangguantidur/istirahat berikut cara-cara yang mungkin dilakukan untuk menghindari ataumeminimalkan penyebab tersebut.

5. Rasional

•Tidur akan sulit dilakukan tanpa relaksasi. Lingkungan rumah sakit yang asing

dapat menghambat relaksasi.

•Agar merasa segar, individu biasanya harus menyelesaikan keseluruhan siklustidur (70-100 menit) sebanyak 4 atau 5 kali semalam (Cohen & Meritt, 1992;Thelan et al, 1998).

•Keefektifan obat-obatan sdatif dan hipnotik mulai berkurang setelah satuminggu penggunaan. Kondisi ini menuntut pemberian dosisyang tinggi danberisiko menyebabkan ketergantungan.

•Ritual/kebiasaan tidur yang biasa dilakukan dapat meningkatkan relaksasi dan

membantu tidur (Cohen & Meritt, 1992).

•Susu hangat yang mengandung L-triptofan

merupakan penginduksi tidur

(hammer, 1991).

•Kafein dan nikotin adalah stimulan SSP yang dapat memperpanjang masa laten

dan meningkatkan frekuensi terjaga di malam hari (Miller, 1999).

•Alkohol dapat menginduksi kantuk, tetapi menekan tidur REM dan meningkatkan

frekuensi terjaga (Miller, 1999).

•Tidur saat dini hari menghasilkan lebih banyak tidur REM dibandingkan tidurpada siang hari. Tidur siang lebih dari 90 menitmengurangistimulus untuksiklustidur yang lebih panjang, yang di dalamnya terdapat tidur REM (Thelan etal, 1998).

•Para peneliti menyebutkan, penghalang utamatidur pada klien yang menjalaniperawatan kritis adalah aktivitas, kebisingan, nyeri, kondisi fisik, prosedurkeperawatan, cahaya, dan hipotermia.

•Kebisingan lingkungan yang tidak dapat dihilangkan atau dikurangi dapt ditutupidengan “bunyi-bunyi yang lembut” (mis; kipas angin, music yang lembut, suararekaman {hujan, ombak pantai}) (Miller, 1999).

•Pola tidur yang tidak teratur dapat mengganggu irama sirkardian normal;

kemungkinan menyebabkan sulit tidur

http://www.scribd.com/doc/14391158/Konsep-Istirahat-Dan-Tidur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s